Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkap persoalan yang membuat pelaku UMKM tetap kesulitan berkembang meski akses pembiayaan terus ditingkatkan. Menurutnya, memberikan modal dan pelatihan saja tidak cukup apabila produk UMKM tidak mendapatkan pasar. Ia bahkan menyebut kondisi pasar domestik Indonesia masih “becek”.
Maman mengatakan akses pembiayaan bagi UMKM terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pemerintah juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam menghasilkan produk hingga mendorong peningkatan kapasitas produksi.
Namun, berbagai dukungan tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi di sejumlah daerah.
Salah satu persoalan yang disoroti Maman adalah pasar domestik yang dipenuhi produk impor. Kondisi tersebut membuat produk buatan UMKM harus bersaing dengan barang dari luar negeri.
“Pasar domestik kita dipenuhi dengan produk-produk barang impor yang mau nggak mau di-top-up pembiayaan seperti apapun, didorong akses pendidikan seperti apapun. Tapi pada saat pasarnya nggak bisa kita sterilisasi, mereka akan mati dengan sendirinya,” ujar Maman.
Maman menegaskan dirinya bukan berarti menolak seluruh barang impor. Namun, apabila suatu produk sebenarnya mampu dibuat oleh UMKM Indonesia, masuknya produk serupa dari luar negeri menurutnya perlu dipertimbangkan agar pasar domestik dapat lebih banyak menyerap produk dalam negeri.
Persoalan UMKM, lanjut Maman, karena itu tidak dapat dilihat hanya dari sisi pembiayaan. Modal yang diberikan bahkan berpotensi menjadi masalah baru apabila pelaku UMKM meningkatkan produksi tetapi tidak mampu menjual barangnya.
“Kalau misalnya UMKM-nya dia nggak bisa jual barangnya, akhirnya ujug-ujug kredit macet juga. Ujug-ujug NPL naik. Akhirnya problem sosial,” katanya.
Menurut Maman, pembiayaan, peningkatan kemampuan usaha, kapasitas produksi hingga akses pasar merupakan aspek yang saling berkaitan.
Tanpa pasar yang mampu menyerap produk, tambahan modal tidak otomatis membuat sebuah UMKM berkembang. Sebaliknya, pelaku usaha dapat menghadapi beban kredit ketika pendapatan dari penjualan tidak sesuai harapan.
Karena itu, Maman mendorong penyelesaian persoalan UMKM dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar dengan memperbesar akses kredit dan pembiayaan.


