Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap delapan orang dalam rombongan jurnalis dan kru KM Arupadatu I yang hilang kontak di perairan Selat Sunda resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari.
Penghentian operasi diumumkan Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis petang.
“Sudah tidak efektif maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini dinyatakan dihentikan,” kata Andra.
Selama operasi, tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun kapal di seluruh sektor pencarian. Pada hari terakhir, 523 personel dikerahkan untuk melakukan penyisiran melalui jalur darat, laut, dan udara dengan cakupan area mencapai 8.509 nautical mile (NM) persegi.
Tim sebelumnya menemukan 13 objek terapung di laut. Namun setelah diverifikasi Ditpolairud Polda Banten, seluruh objek tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan KM Arupadatu I maupun perlengkapan kapal.
Meski operasi resmi dihentikan, pemerintah daerah bersama Basarnas memastikan pencarian dapat kembali dibuka sewaktu-waktu apabila muncul petunjuk baru atau laporan masyarakat yang terkonfirmasi.
Andra menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan serta media yang selama 10 hari ikut mengawal operasi kemanusiaan tersebut.
KM Arupadatu I sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada 7 September pukul 14.00 WIB untuk membawa rombongan melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri dari lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhistiro, Firdaus, dan Donal, serta kapten kapal Warta, ABK Surakman, dan pemandu Heriyanto.
Kontak terakhir tercatat pada pukul 15.04 WIB setelah sebelumnya lokasi kapal dikirim kepada rekan jurnalis di Lampung pada pukul 14.42 WIB.


