Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat bahwa kawasan Nusa Tenggara berada di zona tektonik aktif. Dosen Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Aji Syailendra, mengatakan wilayah tersebut memiliki aktivitas tektonik tinggi yang dipengaruhi sejumlah struktur sesar aktif.
Salah satu yang perlu diwaspadai adalah Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores. Struktur tektonik aktif ini memanjang ratusan kilometer di dasar laut, dari utara Flores, Sumbawa, Lombok hingga kawasan Bali.
“Sesar Naik Busur Belakang Flores merupakan struktur tektonik aktif yang penting dalam memahami potensi gempa dan bencana geologi di Nusa Tenggara,” ujar Aji di Mataram, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Aji, sistem sesar tersebut memiliki potensi menghasilkan gempa hingga sekitar M7,8-M7,9. Ia juga menyebut gempa yang terjadi kali ini memiliki keterkaitan dengan sistem sesar yang pernah memicu gempa Flores 1992 dan rangkaian gempa Lombok 2018.
“Kalau dilihat dari aspek geologi, ini merupakan sistem sesar yang sama dengan yang menyebabkan gempa Flores 1992 dan rangkaian gempa Lombok 2018,” katanya.
Aji mengingatkan ancaman di Nusa Tenggara tidak hanya berupa gempa bumi. Karena berada di dasar laut, pergerakan sesar naik dapat menyebabkan perubahan vertikal dasar laut yang berpotensi mendorong kolom air dan memicu tsunami.
Gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026 tercatat berpusat di laut pada koordinat 8,41 derajat LS dan 121,39 derajat BT, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer.
Sejarah juga menunjukkan besarnya ancaman tersebut. Pada 12 Desember 1992, gempa Flores memicu tsunami yang menerjang Maumere dan Pulau Babi dengan ketinggian gelombang mencapai sekitar 26 meter dan menewaskan lebih dari 2.500 orang.
“Dari sudut pandang geologi, Nusa Tenggara bukan sekadar wilayah yang sering gempa. Kawasan itu berada pada zona tektonik aktif dengan berbagai potensi bencana geologi mulai dari gempa bumi hingga tsunami,” ujar Aji.
BMKG sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa M7,7 tersebut. Peringatan kemudian dicabut setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan.


