Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkap rencana memperpanjang penutupan sejumlah bandara terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga tengah malam. Keputusan tersebut diambil dengan mengutamakan keselamatan penerbangan dan memastikan kondisi bandara benar-benar aman sebelum kembali beroperasi.
Dudy menegaskan pemerintah tidak ingin terburu-buru membuka kembali bandara hanya demi mengejar kelancaran operasional. Menurutnya, keselamatan penumpang dan penerbangan menjadi pertimbangan utama.
“Tadi saya sampaikan ke Pak Menko bahwa ini bukan soal prestasi, tapi ini adalah soal keselamatan. Jadi kita tidak ingin terburu-buru karena masalah ingin cepat-cepat tapi kemudian mengenyampingkan aspek keselamatan,” ujar Dudy.
Penutupan dilakukan melalui mekanisme NOTAM (Notice to Airmen). Perpanjangan hingga pukul 24.00 memberikan waktu bagi otoritas untuk memastikan kondisi fasilitas penerbangan terbebas dari dampak abu vulkanik.
“Kita rencananya akan memperpanjang sampai 24:00. Itu untuk juga memberikan waktu kepada pihak bandara dan operator untuk bersiap.” ujar Dudy
Pembersihan perlu dilakukan pada sejumlah area penting, mulai dari runway, taxiway, hingga apron. Selain itu, maskapai juga membutuhkan waktu untuk melakukan pemeriksaan terhadap pesawat yang akan kembali digunakan.
Abu vulkanik dapat menjadi ancaman bagi keselamatan penerbangan sehingga pesawat yang terdampak harus dipastikan bersih sebelum dioperasikan kembali. Pemerintah pun meminta pengelola bandara dan maskapai menjalankan prosedur keselamatan secara ketat.
Dudy menegaskan keputusan memperpanjang penutupan bukan dilakukan untuk mengejar target operasional, melainkan untuk memberikan kepastian bahwa seluruh aspek keselamatan telah terpenuhi.
Pemerintah berharap masyarakat memahami keputusan tersebut karena pembukaan kembali bandara akan dilakukan setelah kondisi dinyatakan aman dan kondusif.
Dengan demikian, meski penutupan bandara berdampak pada perjalanan masyarakat dan operasional maskapai, pemerintah memilih pendekatan yang lebih berhati-hati untuk menghindari risiko terhadap keselamatan penerbangan.


