Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas harga pangan di tengah musim kemarau dan masa paceklik yang berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah mulai melakukan antisipasi karena harga sejumlah kebutuhan pokok mulai bergerak naik.
“Karena sekarang lagi musim kering, musim peceklik, harga mulai sedikit-sedikit naik. Oleh karena itu pemerintah mengambil langkah untuk menghadapi kondisi tersebut,” kata Zulhas saat kunjungan kerja di Lampung Selatan, Jumat.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah menuntaskan penyaluran bantuan pangan beras untuk periode Juli, Agustus, dan September. Setiap penerima mendapat 10 kilogram beras per bulan, sehingga total bantuan yang diberikan mencapai 30 kilogram.
Penyaluran tersebut menyasar sekitar 33,2 juta penerima manfaat yang masuk kelompok desil 1 hingga desil 4.
“Harusnya Juli, Agustus, September itu 10 kilogram, tetapi sekarang September akan kita selesaikan sekaligus 30 kilogram,” ujarnya.
Bantuan pangan beras juga akan kembali diberikan untuk periode Oktober, November, dan Desember dengan total 30 kilogram bagi penerima manfaat yang sama. Zulhas menyebut sekitar satu juta ton beras akan disiapkan untuk program tersebut.
Selain bantuan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pemerintah menyiapkan sekitar satu juta ton beras subsidi untuk disalurkan melalui pasar tradisional pada Oktober hingga Desember. Harga beras subsidi ditargetkan sekitar Rp12.000–Rp12.500 per kilogram.
Pemerintah juga menyiapkan sekitar 380 ribu ton tepung bersubsidi dengan harga sekitar Rp11.000 per kilogram untuk mendukung perajin kue dan UMKM.
Tak hanya itu, jagung bersubsidi juga disiapkan bagi peternak rakyat. Berbagai kebijakan tersebut diharapkan menjaga pasokan pangan, menekan kenaikan harga, serta mempertahankan daya beli masyarakat selama musim kemarau.


