Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan permohonan maaf atas ambruknya Jembatan Gantung Garuda di Pangandaran, Jawa Barat, saat peresmian pada Minggu (30/8/2026).
Maruli mengaku bertanggung jawab atas insiden jembatan yang dibangun Kodim 0625/Pangandaran bersama Batalyon Teritorial Pembangunan Pangandaran tersebut.
“Saya selaku Kepala Satgas jembatan yang ditunjuk oleh Presiden, saya pribadi bersama anggota memohon maaf atas kejadian tersebut. Kami bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” ujar Maruli dalam siaran pers, Jumat (4/9/2026).
Berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah persoalan pada konstruksi dan sistem pendukung jembatan. Di antaranya pengait block anchor yang patah, konfigurasi serta posisi block anchor terhadap pylon, sistem roller dan turnbuckle, konfigurasi sling bawah, hingga perbedaan elevasi pada pylon.
Selain persoalan teknis, jembatan juga menerima beban berlebihan. Sekitar 50 orang berada di atas jembatan saat kejadian sehingga turut memengaruhi kinerja struktur.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono mengatakan temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi TNI AD.
Menurutnya, Jembatan Garuda merupakan jembatan perintis yang dibangun untuk membantu akses masyarakat. Karena memiliki kapasitas tertentu, jumlah orang yang berada di atas jembatan harus sesuai dengan batas yang telah ditentukan.
TNI AD juga menyebut telah meningkatkan sistem sling pada jembatan-jembatan perintis, termasuk menambah kekuatan sling sekitar 20-30 persen. Namun, peningkatan tersebut tidak menghapus kewajiban menggunakan jembatan sesuai kapasitas dan aturan keselamatan.
“Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk memastikan seluruh aspek teknis dan ketentuan penggunaan benar-benar dipahami dan dipatuhi,” kata Donny.
Sebelumnya, video jembatan yang tiba-tiba berubah posisi saat sejumlah warga melintas viral di media sosial. Warga yang berada di tengah jembatan terlihat berpegangan dan mengambil posisi jongkok atau duduk, sementara warga di bagian ujung berteriak histeris.


