Kampus China Batasi Kuantitas Demi Kualitas, Indonesia Pilih yang Mana?

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkap adanya perbedaan pendekatan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di China dan Indonesia.

Stella menjelaskan, perguruan tinggi setidaknya menghadapi tiga aspek penting, yakni kualitas, kuantitas, dan keterjangkauan. Ketiganya menjadi tantangan karena tidak mudah dipenuhi secara bersamaan.

Menurut Stella, ketiga aspek tersebut ibarat sebuah segitiga yang hampir mustahil ditutup seluruhnya. Ketika perguruan tinggi berupaya meningkatkan kualitas, memperluas jumlah mahasiswa, sekaligus menjaga pendidikan tetap terjangkau, biasanya ada salah satu aspek yang harus dikorbankan.

“Ini adalah segitiga yang hampir mustahil ditutup. Kalau bahasanya kadang-kadang ya, rungkad, rumit buat Bapak-Ibu sekalian di perguruan tinggi, termasuk kita di Kemdiktisaintek,” tutur Stella dalam acara Peluncuran Akademik Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) di Gedung D Kemdiktisaintek, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Stella kemudian mencontohkan China. Berdasarkan pengalamannya selama tujuh tahun tinggal di negara tersebut, ia menyebut China cenderung melepaskan aspek kuantitas untuk menjaga kualitas pendidikan.

Ia mengatakan hanya sekitar 50 persen siswa SMA di China yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah satu faktor yang disebut Stella adalah ketatnya seleksi dalam jalur pendidikan menuju perguruan tinggi.

“Kebetulan saya kan 7 tahun di Tiongkok (China). Jadi, untuk bisa masuk ke SMA yang nanti bisa melanjutkan ke perguruan tinggi itu ketat sekali, luar biasa,” paparnya.

Dengan kata lain, tidak semua siswa yang menyelesaikan pendidikan menengah memiliki kesempatan yang sama untuk masuk perguruan tinggi. Seleksi yang ketat membuat jumlah mahasiswa yang diterima menjadi lebih terbatas.

Stella menjadikan kondisi tersebut sebagai gambaran mengenai pilihan yang harus diambil ketika sebuah negara berupaya membangun sistem pendidikan tinggi. Memperluas akses pendidikan tinggi memang penting, tetapi pada saat yang sama perguruan tinggi juga dituntut menjaga kualitas dan memastikan biaya pendidikan tetap dapat dijangkau masyarakat.

Kondisi tersebut kemudian menjadi pertanyaan yang relevan bagi Indonesia. Ketika akses perguruan tinggi terus diperluas, bagaimana menjaga kualitas pendidikan sekaligus memastikan biaya tetap terjangkau?

Stella tidak secara langsung menyatakan Indonesia harus mengikuti model China. Penjelasannya lebih menyoroti adanya dilema antara kualitas, kuantitas, dan keterjangkauan yang dihadapi perguruan tinggi.

Pilihan kebijakan pada akhirnya bergantung pada prioritas masing-masing negara. China, menurut Stella, menjadi contoh negara yang memilih mengurangi sisi kuantitas melalui seleksi ketat. Sementara bagi Indonesia, tantangannya adalah menentukan keseimbangan antara memperluas akses pendidikan tinggi dan menjaga kualitasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top