Lampaui China dan AS, Indonesia Jadi Negara Paling Banyak Gunakan AI untuk Belajar

Indonesia tercatat sebagai negara dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan dan pembelajaran personal tertinggi di antara negara-negara yang disurvei Statista.

Berdasarkan Statista Consumer Insights, sebanyak 61 persen responden di Indonesia mengaku menggunakan AI tools untuk kebutuhan pendidikan dan pembelajaran dalam kehidupan pribadi mereka. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam daftar negara yang ditampilkan.

Indonesia unggul cukup jauh dari sejumlah negara dengan populasi besar dan perkembangan teknologi yang pesat. India berada di posisi kedua dengan 57 persen, disusul Afrika Selatan sebesar 56 persen.

Sementara itu, Brasil mencatat angka 44 persen dan China berada di angka 42 persen. Artinya, proporsi responden Indonesia yang menggunakan AI untuk belajar hampir 20 poin persentase lebih tinggi dibandingkan China.

Penggunaan AI di Indonesia juga jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat. Dalam survei tersebut, hanya 22 persen responden AS yang mengaku menggunakan AI untuk pendidikan dan pembelajaran dalam kehidupan personal mereka.

Dengan demikian, tingkat penggunaan AI untuk belajar di Indonesia hampir tiga kali lipat dibandingkan Amerika Serikat.

Negara-negara lain yang masuk dalam daftar adalah Spanyol dengan 30 persen, Australia 26 persen, Jerman 25 persen, serta Belanda yang berada di posisi terbawah dengan 14 persen.

Data ini menunjukkan bahwa AI semakin masuk ke dalam aktivitas belajar masyarakat Indonesia. Teknologi tersebut tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai asisten belajar pribadi.

AI dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang sulit dipahami, membuat rangkuman, menerjemahkan bahasa, mencari informasi, memberikan contoh soal, hingga membantu seseorang mempelajari keterampilan baru.

Menariknya, survei ini tidak hanya menggambarkan kebiasaan pelajar. Responden yang disurvei berada pada rentang usia 18–64 tahun, sehingga penggunaan AI tersebut juga mencakup orang dewasa yang memanfaatkannya untuk pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Survei dilakukan pada Januari hingga Juni 2026, dengan jumlah responden antara 500 hingga 4.300 orang di masing-masing negara.

Tingginya penggunaan AI untuk belajar di Indonesia sekaligus menunjukkan besarnya potensi teknologi tersebut dalam memperluas akses terhadap pembelajaran. Seseorang kini dapat memiliki semacam “tutor digital” yang dapat diakses kapan saja melalui perangkat yang mereka gunakan.

Namun, tingginya penggunaan AI juga membawa tantangan. Kemudahan mendapatkan jawaban tidak selalu berarti informasi yang diberikan benar. Kemampuan untuk memeriksa fakta, memahami sumber informasi, dan tetap berpikir kritis menjadi semakin penting ketika AI digunakan sebagai bagian dari proses belajar.

Terlepas dari tantangan tersebut, angka 61 persen memberikan gambaran menarik mengenai perubahan perilaku masyarakat Indonesia.

AI tampaknya bukan lagi sekadar teknologi untuk bekerja atau mencari informasi. Bagi semakin banyak masyarakat Indonesia, AI mulai menjadi bagian dari cara mereka belajar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top