Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kabar positif dari pasar tenaga kerja Indonesia. Hingga Mei 2026, jumlah pengangguran turun menjadi 7,22 juta orang atau berkurang sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Penurunan ini membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia berada di level 4,65 persen, yang merupakan angka terendah sejak 1994.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan penurunan jumlah pengangguran terjadi seiring bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja.
“Angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24.000 orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026,” kata Edy dalam konferensi pers di Kantor BPS, Rabu (5/8/2026).
BPS mencatat jumlah penduduk usia kerja pada Mei 2026 mencapai 220,23 juta orang, meningkat sekitar 689 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Dari jumlah tersebut, angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang, sementara 148,19 juta orang telah bekerja. Jumlah penduduk yang bekerja bertambah sekitar 522 ribu orang dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Menurut Edy, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen menjadi capaian terbaik dalam lebih dari tiga dekade terakhir.
“Jadi pengangguran Mei 2026 ini sebesar 4,65 persen merupakan TPT terendah sejak tahun 1994,” ujarnya.
Meski demikian, BPS juga mencatat tantangan besar masih terjadi pada kelompok usia muda. Berdasarkan kelompok umur, TPT usia 15–24 tahun mencapai 17,37 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Sebaliknya, kelompok usia 60 tahun ke atas memiliki tingkat pengangguran paling rendah, yakni 2,35 persen.
BPS menjelaskan pengangguran merupakan penduduk berusia 15 tahun ke atas yang belum bekerja namun sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, telah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja, atau merasa tidak mungkin memperoleh pekerjaan.
Data tersebut menunjukkan kondisi pasar kerja Indonesia terus membaik. Namun, tingginya tingkat pengangguran pada kelompok usia muda masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian melalui peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan kerja, serta perluasan kesempatan kerja bagi generasi muda.


