Kabut Asap Pekat Kalbar, Orang Tua dengan Bayi dan Balita Pilih Mengungsi

PONTIANAK – Kabut asap tebal kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran, terutama bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil.

Kekhawatiran itu tergambar dari unggahan seorang ibu di Threads yang viral. Ia membagikan foto sungai yang nyaris tak terlihat akibat tertutup asap. Dalam unggahannya, ia menuliskan rencana untuk mengungsi bersama bayinya yang masih berusia tiga bulan demi mendapatkan udara yang lebih baik.

“Rencana mau ngungsi bersama bayiku yang 3 bulan demi mendapatkan udara yang lebih baik. Se tebel ini Kalbar,” tulisnya.

Kondisi jarak pandang di Kalimantan Barat memang memburuk. Pada Selasa, 2 September 2026 pukul 11.57 WIB, AirNav Indonesia mencatat jarak pandang di Pontianak hanya sekitar 600 meter. Kondisi tersebut menyebabkan seluruh penerbangan mengalami keterlambatan, sementara satu penerbangan rute Jakarta-Pontianak bahkan harus kembali ke bandara asal.

View on Threads

Tak hanya mengganggu aktivitas penerbangan, kabut asap juga berdampak pada kualitas udara. Pekan lalu, indeks standar pencemar udara (ISPU) di Pontianak sempat mencapai 328, yang masuk kategori berbahaya.

Paparan partikulat halus PM2.5 dari asap kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian khusus bagi bayi dan balita. Sistem pernapasan anak yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap dampak polusi udara.

Kondisi tersebut juga mendorong petugas untuk meningkatkan langkah pencegahan. Tim Kesehatan Polres Ketapang sejak Selasa (1/9) membagikan masker sekaligus mengedukasi warga di Muara Pawan agar mengurangi aktivitas di luar rumah. Paparan asap dalam waktu lama dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk ISPA.

Sementara itu, BNPB mencatat terdapat 7.377 titik panas di Kalimantan Barat per 31 Agustus 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di kawasan Kalimantan.

Upaya penanganan karhutla juga mendapat dukungan dari Jepang. Sebanyak tiga helikopter Chinook bantuan Jepang dijadwalkan tiba pada 10 September 2026 untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah terdampak.

Bagi keluarga yang belum dapat mengungsi, BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan selama kualitas udara memburuk. Warga juga disarankan menggunakan air purifier jika tersedia, menutup ventilasi yang memungkinkan asap masuk, serta memantau perkembangan ISPU secara berkala melalui kanal resmi KLHK.

Kabut asap bukan hanya persoalan jarak pandang dan aktivitas penerbangan. Bagi keluarga dengan bayi dan balita, memburuknya kualitas udara menjadi alasan untuk mengambil langkah ekstra demi melindungi kesehatan anak.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top