Pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana di Sumatera mendapat sorotan dari DPR RI. Pasalnya, sebagian besar huntap yang telah terbangun hingga saat ini berasal dari pihak swasta melalui dana gotong royong.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait atau Ara menyampaikan, dari total 2.603 unit huntap yang dibangun di Sumatera, sebanyak 1.002 unit sudah selesai. Pembangunan tersebut dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kemudian di Sumatera itu ada 2.603 hunian tetap yang dibangun. Per hari ini sudah jadi 1.002 unit. Ini juga dari dana gotong royong,” kata Ara dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus kemudian mempertanyakan keberadaan huntap yang dibangun menggunakan APBN.
“Kalau tidak salah yang dari APBN-nya mana ini Pak?” tanya Lasarus.
Ara pun menjawab santai, “Tolonglah yang ditanya yang perlu saja Ketua (Komisi V)?”
Lasarus kemudian menjelaskan bahwa dirinya memahami adanya kendala yang membuat pembangunan huntap melalui APBN belum berjalan. Ia menyebut terdapat proses yang masih terkendala di Kementerian Keuangan maupun LKPP, khususnya terkait proses lelang konstruksi di Kementerian PKP.
Meski demikian, Lasarus meminta pemerintah tetap memperbanyak pembangunan huntap menggunakan APBN. Menurutnya, penyediaan hunian bagi korban bencana merupakan kewajiban negara.
“Kalau bisa yang APBN bisa lebih banyak. Masa lebih banyak swastanya daripada APBN-nya. Negara harus hadir dong,” ujar Lasarus.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Tzu Chi telah menyelesaikan 562 unit dari 1.103 unit di Sumatera Utara dan 440 unit dari 1.000 unit di Aceh. Sementara 500 unit di Sumatera Barat dijadwalkan mulai dibangun pada Desember 2026.
Sejumlah hunian juga telah diserahterimakan kepada korban, di antaranya 227 unit di Tapanuli Selatan, 103 unit di Tapanuli Utara, 114 unit di Sibolga, serta 100 unit di Aceh Utara dan 108 unit di Aceh Tamiang.


