Prosperity Index 2026 Rilis 171 Negara Paling Makmur, Indonesia Posisi 107

Atlantic Council merilis Prosperity Index 2026 yang mengukur tingkat kemakmuran 171 negara di dunia. Dalam pemeringkatan terbaru tersebut, Indonesia berada di posisi 107 dengan skor 61,0 dan masuk kategori “Low Prosperity” atau kemakmuran rendah.

Prosperity Index tidak hanya melihat kemakmuran sebuah negara berdasarkan pendapatan masyarakat. Atlantic Council menggunakan enam komponen dengan bobot setara, yakni pendapatan, pendidikan, kesehatan, kualitas lingkungan, kesetaraan pendapatan, serta peluang bagi kelompok minoritas.

Hasil pemeringkatan menunjukkan negara-negara Eropa, khususnya Nordik, masih mendominasi papan atas.

Norwegia menjadi negara paling makmur di dunia dengan skor 93,5. Posisi berikutnya ditempati Denmark dengan 91,5 dan Islandia 91,1.

Irlandia berada di peringkat keempat dengan skor 90,8, disusul Swedia 90,7, Swiss 90,3, Belgia 90,2, Finlandia 89,8, Slovenia 89,6 dan Belanda 89,5.

Sementara itu, posisi Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara ASEAN.

Singapura berada di peringkat 18 dunia dengan skor 86,5 dan menjadi satu-satunya negara ASEAN yang masuk kategori High Prosperity.

Thailand menempati posisi 70 dengan skor 70,3, disusul Malaysia di peringkat 71 dengan 70,1 dan Vietnam pada posisi 77 dengan skor 69.

Filipina berada tidak terlalu jauh dari Indonesia, yakni peringkat 102 dengan skor 62,4.

Indonesia sendiri berada di posisi 107 dengan skor 61,0, sedangkan Timor-Leste berada di peringkat 113, Kamboja 115, Laos 122 dan Myanmar 126.

Atlantic Council membagi negara dalam empat kelompok berdasarkan peringkat, yakni High Prosperity, Moderate Prosperity, Low Prosperity dan Lowest Prosperity.

Laporan 2026 juga menunjukkan kemakmuran dunia secara umum mengalami peningkatan dalam tiga dekade terakhir. Rata-rata global Prosperity Index meningkat hampir 10 poin sejak 1995.

Namun, peningkatannya tidak merata. Kemajuan terbesar terjadi pada aspek pendidikan, kesehatan dan pendapatan. Sementara peningkatan dalam kesetaraan, lingkungan serta peluang bagi kelompok minoritas berjalan lebih lambat

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top